TABLOID IMAN & TAQWA
SMP MUHAMMADIYAH 26 JAKARTA
TABLOID IMAN & TAQWA
SMP MUHAMMADIYAH 26 JAKARTA
Jakarta, 12 Mei 2026
M. Arsyad
Mari Menjaga Lingkaran (Persahabatan) Dengan Hikmah
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Orang Yang Tidak Belajar Adab dari Pendidik (Maha Guru) Pasti akan Menyesatkan Pengikutnya" (Hikmah 1)
"Batinmu harus Senantiasa Sadar, Lahirmu harus Bergaul dengan Sabar" (Hikmah 2)
Dalam perjalanan hidup, kedewasaan bukan hanya tentang bertambahnya usia, tetapi tentang kemampuan menata hati dan memilih lingkungan yang sehat.
Islam mengajarkan agar seorang mukmin menjaga pergaulan dengan bijak, karena teman sangat memengaruhi iman, akhlak, dan arah hidupnya.
Memilih teman bukan kesombongan, melainkan bentuk tanggung jawab atas keselamatan jiwa.
Salah satu ciri orang yang mentalnya sehat adalah dia mampu memilih teman. Bukan karena merasa lebih tinggi, bukan pula karena ingin terlihat eksklusif. Ia hanya sadar bahwa hidup ini adalah Amanah, Hati adalah ladangnya, dan Pergaulan adalah benih yang akan tumbuh di dalamnya.
Islam sejak awal telah mengingatkan bahwa kualitas pertemanan sangat menentukan kualitas iman.
Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Furqan ayat 27–29:
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا
“Dan (ingatlah) pada hari ketika orang zalim menggigit kedua tangannya seraya berkata, ‘Wahai sekiranya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul. Celakalah aku, sekiranya aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku. Sungguh dia telah menyesatkanku dari peringatan ketika peringatan itu datang kepadaku.’ Dan setan itu tidak mau menolong manusia.”
Ayat di atas menggambarkan penyesalan yang amat dalam akibat salah memilih teman. Bukan karena kurang cerdas, tetapi karena salah lingkaran. Maka memilih siapa yang boleh masuk ke ruang terdalam kehidupan kita adalah bentuk ikhtiar menjaga iman.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan dalam hadis sahih riwayat Muhammad yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim:
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang itu berada di atas agama (jalan hidup) teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang ia jadikan teman.”
Hadis ini begitu jelas. Pergaulan bukan sekadar relasi sosial, tetapi jalan yang memengaruhi keyakinan, kebiasaan, bahkan masa depan akhirat. Jika seseorang terbiasa berada dalam lingkungan yang gemar maksiat/gemar Menggosip/gemar mengadu domba/gemar menfitnah/suka berdusta/ dan seterusnya, lambat laun ia akan menganggap maksiat sebagai hal biasa.
Sebaliknya, jika ia berada di tengah orang-orang yang menjaga shalat, menjaga lisannya, dan baik akhlaknya, maka ia akan terdorong untuk menjadi lebih baik.
Semakin dewasa, seseorang akan sadar bahwa energi itu terbatas. Tidak semua obrolan perlu diikuti, tidak semua ajakan harus disanggupi, dan tidak semua orang harus diberi akses penuh ke hidup kita. Dalam Islam, menjaga diri dari lingkungan yang merusak (Lingkaran Setan) termasuk bagian dari menjaga agama.
Allah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 119:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang Jujur.”
Perintah “bersama orang-orang yang jujur” adalah isyarat agar kita memilih lingkungan yang menumbuhkan Ketakwaan. Bukan berarti memutus silaturahmi, tetapi menempatkan setiap orang pada posisi yang tepat.
🌹Ada yang cukup sebagai kenalan.
🌹Ada yang sebatas rekan kerja.
🌹Ada yang memang layak menjadi sahabat dekat.
🌹Ada yang layak menjadi sandaran tempat curhat (Amanah).
Mental yang sehat juga tampak dari kemampuannya berkata tidak. Dalam sebuah hadis disebutkan:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi).
Betapa banyak konflik, fitnah, dan kegelisahan muncul karena kita terlalu membuka ruang pada hal-hal yang tidak perlu.
Padahal meninggalkan yang tidak bermanfaat adalah ciri kematangan iman dan Kunci Ketenangan Hidup.
Memilih teman bukan berarti menilai diri paling benar. Justru itu bentuk kesadaran bahwa hati mudah terpengaruh. Nabi ﷺ memberi perumpamaan indah tentang teman baik dan teman buruk:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسُّوءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti pembawa minyak kasturi dan peniup tungku besi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pembawa Kasturi mungkin memberimu minyak wangi, atau setidaknya engkau mendapatkan aroma harum darinya.
Sedangkan peniup tungku bisa membakar pakaianmu atau minimal engkau terkena bau tak sedap. Demikianlah pergaulan.
Karena itu, orang yang dewasa tidak sembarangan membuka cerita terdalam dan selalu menyeleksi siapa yg harus layak untuk dipercaya. Karena Ia paham bahwa:
1. Tidak semua orang mampu menjaga rahasia.
2. Tidak semua orang siap melihat keberhasilannya tanpa iri.
3. Tidak semua orang tulus dalam kebersamaan.
Namun Ia tetap ramah, tetap santun, tetapi selektif dalam kedekatan. Inilah keseimbangan antara Husnuzan dan kehati-hatian (Tabayyun) .
Pada akhirnya, memilih lingkaran (Persahabatan) adalah bagian dari menjaga Amanah Diri. Kita akan dimintai pertanggungjawaban atas Waktu, Usia, dan Kesempatan.
Lingkungan yang baik akan:
1. Menguatkan saat iman melemah,
2. mengingatkan saat lalai, dan
3. Mendoakan saat kita tidak tahu.
Maka jangan takut dianggap berubah ketika mulai Menata Pergaulan. Jika perubahan itu mendekatkan kepada Allah, itulah kemajuan yang sejati.
Senantiasa Allah menjadikan kita termasuk:
1. Orang-orang yang bijak dalam memilih sahabat,
2. Orang yang kuat dalam menjaga prinsip, dan
3. Orang yang lembut dalam bersikap.
Karena kesehatan mental dalam Islam bukan hanya tentang ketenangan jiwa, tetapi tentang keselamatan Iman hingga akhir hayat.
Nabi Muhammad ﷺ Bersabda:
"Seseorang dihimpun sesuai dengan agama temannya. Karena itu, perhatikan dan cermatilah siapa yang layak kau jadikan teman".
(H.R.Abu Dawud. 4/259 dan H.R.Tarmizi.4/589. dan H.R.Al-Hakim. 4/188)