Belajar Membangun Rumah Tangga
Yang Sakinah, Mawaddah, Warahmah (Keluarga Yang Keberkahan)
Belajar Membangun Rumah Tangga
Yang Sakinah, Mawaddah, Warahmah (Keluarga Yang Keberkahan)
بسم الله الرحمن الرحيم
Rumah tangga bukan sekadar tempat berkumpulnya dua insan, melainkan amanah besar yang dipenuhi ujian, kesabaran, serta perjuangan menjaga cinta karena Allah. Tidak semua persoalan harus diketahui banyak orang, sebab ada kehormatan yang wajib dijaga di balik pintu rumah. Ketika suami dan istri belajar saling memahami, menutup aib, serta menguatkan satu sama lain, di situlah keberkahan perlahan tumbuh dan ketenangan hadir dalam kehidupan.
Rumah tangga adalah ladang ibadah yang sangat panjang. Di dalamnya ada tawa, air mata, perjuangan mencari nafkah, mendidik anak, mengendalikan emosi, hingga belajar memaafkan setiap hari.
Banyak orang mengira bahwa kebahagiaan rumah tangga lahir karena tidak adanya masalah, padahal kenyataannya tidak demikian. Rumah tangga yang Berkah justru lahir:
1. Dari dua hati yang mau bertahan ketika ujian datang dan memilih tetap bersama walaupun keadaan tidak selalu mudah.
2. Dari Dua Hati yang mau meninggalkan Ego/kebiasaan pribadi dan menyatu dalam Etika, Adab Secara Islam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan bahwa pernikahan adalah jalan menghadirkan ketenteraman hati dengan konsep Al-Qyran. Firman Allah dalam Al-Qur’an:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar Rum: 21)
Ayat di atas mengajarkan bahwa tujuan utama rumah tangga adalah Menghadirkan Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah.
🫅🤴SMR tidak Hadir secara spontan, namun SMR dihadirkan dengan Ketaata, penghormatan dan Kesabaran. Karena itu, ketika masalah datang, jangan terburu-buru membuka semua aib kepada banyak orang. Tidak semua telinga mampu menjaga rahasia. Tidak semua orang yang mendengar akan memberi solusi dengan hati yang bersih. Kadang masalah yang sebenarnya kecil justru menjadi besar karena terlalu banyak campur tangan manusia lain
Islam mengajarkan adab menjaga rahasia rumah tangga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا
“Sesungguhnya termasuk manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat ialah seorang suami yang bergaul dengan istrinya dan istrinya bergaul dengannya, kemudian ia menyebarkan rahasianya.” (HR. Muslim)
Hadis di atas tidak hanya berbicara tentang hubungan suami istri secara khusus, tetapi juga mengandung pelajaran besar tentang menjaga kehormatan pasangan, atau Kehormatan orang lain.
Betapa banyak rumah tangga retak bukan karena masalahnya terlalu berat, melainkan karena rahasianya diumbar ke mana-mana.
Ketika kemarahan sedang memuncak, seseorang terkadang menceritakan semua keburukan pasangannya kepada teman, saudara, bahkan media sosial (Status, Fecbook dll) . Setelah emosi reda dan mereka baikan, jejak cerita itu tetap tinggal dan pandangan buruk orang lain sulit dihapuskan.
Bijak dalam berbagi cerita adalah bagian dari kedewasaan iman. Tidak salah meminta nasihat ketika keadaan benar-benar sulit, tetapi pilihlah orang yang Amanah, Bijak, dan mampu menjaga rahasia.
Jangan menjadikan setiap pertengkaran sebagai bahan konsumsi banyak pihak. Sebab ada luka yang cukup disembuhkan dengan doa malam, ada masalah yang cukup Allah saja yang tahu, dan ada kesalahan yang cukup diperbaiki berdua tanpa harus mempermalukan pasangan sendiri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al Hujurat: 12)
Dalam kehidupan rumah tangga, ayat di atas mengajarkan agar suami dan istri tidak mudah membuka aib pasangannya kepada orang lain.
Ketika keburukan diumbar, maka prasangka, gunjingan, dan penilaian buruk akan semakin meluas. Padahal setiap manusia memiliki kekurangan yang sedang diperjuangkan untuk diperbaiki.
Rumah tangga yang bertahan lama biasanya dibangun dengan kesabaran yang diam-diam.
1. Ada istri yang memilih menahan lelah demi menjaga suasana rumah tetap hangat.
2. Ada suami yang diam-diam memendam beban agar keluarganya tetap tenang.
Mereka (suami -istri) mungkin tidak sempurna, tetapi mereka sama-sama berusaha menjaga satu sama lain agar tidak jatuh di hadapan manusia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi)
Kebaikan dalam rumah tangga bukan hanya tentang memberi nafkah atau hadiah. Kadang kebaikan itu berupa menahan ucapan kasar ketika marah, memilih diam daripada menyakiti, meminta maaf lebih dulu walaupun merasa benar, serta menjaga nama baik pasangan di depan orang lain. Sebab cinta yang diberkahi bukan cinta yang selalu dipenuhi pujian, melainkan cinta yang tetap menjaga kehormatan pasangannya dalam keadaan apa pun.
Ketika masalah datang, duduklah bersama. Bicara dengan hati yang tenang. Jangan saling meninggikan suara. Jangan mengungkit kesalahan lama yang telah berlalu.
1. Ingat kembali perjuangan awal saat membangun rumah tangga.
2. Ingat bahwa pasangan kita adalah manusia biasa yang juga ingin dipahami dan dihargai.
MADDAH
1. Senantiasa Allah menjaga setiap rumah tangga dari pertengkaran yang merusak, dari campur tangan yang memperkeruh keadaan, serta dari hati yang mudah menyerah.
2. Senantiasa Allah meliputi setiap rumah dengan dzikir, kelembutan, kesabaran, dan cinta yang tumbuh karena-Nya.Arsya
3. Semoga setiap pasangan mampu menjaga amanah pernikahan hingga kelak dipertemukan kembali dalam keberkahan surga-Nya. Aamiin.
Semoga bermanfaat
Bogor, Asem:
14 Dzulhijjah 1447 H/
31 Mei 2026
M. Arsyad