Nikmat Yang Menundukkan Hati
Nikmat Yang Menundukkan Hati
بسم الله الرحمن الرحيم
Nikmat yang Allah anugerahkan kepada manusia bukanlah tanda mutlak bahwa seseorang lebih mulia dibandingkan orang lain. Kekayaan, kesehatan, jabatan, ilmu, keluarga, maupun berbagai kemudahan hidup sesungguhnya merupakan UJIAN yang memperlihatkan siapa yang mampu Bersyukur dan siapa yang Lalai.
Nikmat yang sejati bukanlah yang membuat manusia merasa tinggi, melainkan yang menjadikan HATI semakin tunduk, semakin dekat kepada Allah, serta semakin peduli terhadap sesama.
Setiap manusia menginginkan kehidupan yang penuh kenikmatan. Tidak ada seorang pun yang menolak kesehatan, rezeki yang lapang, keluarga yang harmonis, ataupun kedudukan yang terhormat. Namun, Al-Qur'an mengajarkan bahwa seluruh Nikmat itu BUKANLAH UKURAN KEMULIAN seseorang di sisi Allah.
Nikmat adalah AMANAH yang akan dipertanggungjawabkan, sekaligus UJIAN yang menentukan Kualitas Keimanan seorang hamba
Betapa banyak orang yang diberi kelapangan, tetapi semakin jauh dari Allah. Sebaliknya, tidak sedikit hamba yang diberi kesempitan, namun justru semakin Dekat kepada Rabbnya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۗ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
"Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah khalifah di bumi dan Dia mengangkat sebagian kamu atas sebagian yang lain beberapa derajat untuk mengujimu terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat memberi hukuman dan sungguh Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(QS. Al An'am: 165)
Ayat ini menunjukkan bahwa perbedaan nikmat di antara manusia bukanlah bentuk pilih kasih Allah, melainkan bagian dari Ujian Kehidupan.
1. Ada yang diuji dengan kekayaan,
2. Ada yang diuji dengan kemiskinan.
3. Ada yang diuji dengan kekuasaan,
4. Ada pula yang diuji dengan kelemahan.
Semua akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang diterimanya.
Sering kali manusia Tertipu oleh Gemerlap Dunia:
1. Ketika memperoleh keberhasilan, ia mengira bahwa semua itu semata karena kecerdasan, kerja keras, atau kehebatannya. Padahal, tanpa izin Allah, tidak ada satu pun nikmat yang mampu diraih.
2. Kesombongan yang muncul akibat nikmat adalah awal dari kehancuran Hati.
Sebaliknya, Rasa syukur akan menjadikan nikmat semakin bernilai dan membawa keberkahan dalam kehidupan.
Allah Ta'ala berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
"Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'"
(QS. Ibrahim: 7)
Syukur bukan sekadar ucapan "Alhamdulillah" yang keluar dari lisan. Syukur adalah kesadaran mendalam bahwa seluruh kenikmatan berasal dari Allah, kemudian diwujudkan dengan Menggunakan Nikmat tersebut untuk ketaatan:
1. Harta dipergunakan untuk berbagi.
2. Ilmu diamalkan dan diajarkan.
3. Jabatan digunakan untuk melayani masyarakat dengan Amanah.
4. Kesehatan dimanfaatkan untuk beribadah dan berbuat kebaikan.
Itulah hakikat syukur yang sebenarnya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan teladan yang sangat indah. Meskipun beliau telah dijamin ampunan oleh Allah, beliau tetap melaksanakan salat malam hingga kedua kakinya bengkak. Ketika ditanya mengapa beliau beribadah sedemikian sungguh sungguh, beliau menjawab:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقُلْتُ لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan salat malam hingga kedua telapak kaki beliau bengkak. Aku berkata, "Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan ini, padahal Allah telah mengampuni dosa dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang?" Beliau menjawab, "Tidakkah aku ingin menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?"
(HR. Al Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa syukur bukanlah sikap pasif, melainkan dorongan untuk semakin taat kepada Allah. Semakin besar nikmat yang diterima, semakin besar pula rasa rendah hati yang tumbuh dalam diri seorang mukmin.
Kemuliaan seseorang tidak diukur dari banyaknya nikmat dunia yang dimiliki. Allah telah menegaskan ukuran kemuliaan yang sebenarnya dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
"Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa bangsa dan bersuku suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti."
(QS. Al Hujurat: 13)
Ayat ini menjadi penegas bahwa ukuran kemuliaan bukanlah Kekayaan, Kedudukan, Kecantikan, Kepintaran, ataupun Keturunan. Semua itu hanyalah fasilitas kehidupan yang dapat menjadi jalan menuju SURGA atau justru menyeret manusia kepada KEBINASAAN. Yang menentukan derajat seseorang di sisi Allah adalah KETAQWAAN.
Karena itu, setiap kali memperoleh nikmat, seorang mukmin hendaknya segera bertanya kepada dirinya sendiri:
1. Apakah nikmat ini membuatku lebih rajin beribadah atau justru semakin lalai?.
2. Apakah nikmat ini membuatku semakin rendah hati atau semakin sombong?
3. Apakah nikmat ini mendekatkanku kepada Allah atau justru menjauhkan diriku dari-Nya?
Pertanyaan pertanyaan inilah yang menjaga hati agar tidak tertipu oleh gemerlap dunia.
Sesungguhnya nikmat terbesar bukanlah banyaknya harta yang tersimpan, melainkan hati yang senantiasa hidup bersama Allah. Hati yang lembut akan mudah bersyukur, mudah memohon ampun, mudah berbagi, serta mudah menangis ketika mengingat kebesaran-Nya. Sebaliknya, HATI yang KERAS akan merasa semua keberhasilan berasal dari dirinya sendiri hingga lupa kepada Sang Pemberi Nikmat.
Marilah kita memohon kepada Allah agar setiap nikmat yang dikaruniakan menjadi jalan menuju ketakwaan, bukan pintu Kesombongan. Semoga:
1. Setiap rezeki menambah rasa syukur,
2. Setiap ilmu menambah kerendahan hati,
3. Setiap kedudukan menambah amanah, dan
4. Setiap keberhasilan menjadikan kita semakin dekat kepada Allah.
Sebab, nikmat yang paling agung bukanlah yang meninggikan KEPALA di hadapan manusia, melainkan nikmat yang menundukkan HATI di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Semoga bermanfaat
Oleh : H. Sudarman, M. Pd.